Pages

Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Monday, June 7, 2010

Keindahan yang Eksotis









Batu Cermin adalah salah satu kawasan gua yang paling terkenal di sekitar Labuan Bajo. Jalan masuknya memang terlihat kurang terawat, seakan-akan dinas pariwisata setempat kekurangan biaya untuk melakukan pemeliharaan. Melewati jalan berbatu yang kiri kanannya dipenuhi dengan pepohonan bambu - yang melengkung secara alamiah - hatiku takjub pada pemandangan yang liar ini.






Stalagmit-stalagmit dan stalagtit-stalagtit seakan beradu cepat untuk tumbuh, meraih dinding di depannya. Pada satu sisi gua, tebing kapur tampak seperti membentuk dinding yang halus dan rata. Sinar matahari yang jatuh padanya terpantulkan dengan sempurna pada jam-jam tertentu. Makanya penduduk sekitar menamai tempat ini Batu Cermin.

Kami menyusuri bagian dalam gua dan menemukan lorong panjang yang tinggi berwarna pualam. Rasanya bagaikan memasuki lorong waktu, kembali ke masa silam.


(Labuan Bajo, NTT)

Sunday, February 14, 2010

Buka Dulu Topengmu


Tapi buka dulu topengmu,
buka dulu topengmu
Biar kulihat warnamu,
kan kulihat warnamu

Itu katanya Peterpan. Mendengar lagu itu di radio, sambil nyengir aku jadi inget sama berita yang masuk ke BB-ku baru-baru ini. BTW...ini kisah nyata abad ini lho... brace yourself...here it is:


DUBES ARAB BATALKAN PERNIKAHAN GARA-GARA CALON ISTRI BERJENGGOT


Seorang duta besar (dubes) Arab membatalkan pernikahannya setelah mengetahui kalau calon istrinya ternyata punya jenggot dan bermata juling! Selama ini wajah wanita itu selalu tertutup cadar.

Demikian seperti diberitakan media Arab berbahasa Inggris, Gulf News dan dilansir kantor berita AFP, Kamis (11/2/2010).

Sebelumnya diplomat Arab tersebut cuma beberapa kali bertemu dengan calon istrinya itu. Dan tiap kali pertemuan, sang wanita selalu menutupi wajahnya dengan cadar.

Setelah pasangan itu menandatangani kontrak pernikahan, sang dubes mencoba mencium mempelai wanita. Saat itulah, pria yang dirahasiakan identitasnya itu mengetahui kalau wanita itu memiliki jenggot dan bermata juling.

Melihat kenyataan itu, sang dubes pun menuntut pembatalan kontrak pernikahan. Dia juga menuntut ganti rugi sebesat 500 ribu dirham (sekitar Rp 1,2 miliar) atas perhiasan, pakaian dan barang-barang lainnya yang telah diberikan untuk wanita tersebut.

Dalam persidangan di pengadilan syariah di Uni Emirat Arab, dubes tersebut mengaku telah ditipu dengan pernikahan tersebut. Sebab selama ini ibu wanita tersebut telah memperlihatkan foto saudara perempuan calon istrinya, bukannya foto wanita itu sendiri.

Pengadilan memang mengabulkan permohonan sang dubes untuk membatalkan pernikahan tersebut. Namun pengadilan menolak tuntutan kompensasi yang diajukannya.


Pria Bertopeng? Wanita Bercadar?

Saya kira dua-duanya sama aja. Don't we like to cover ourselves in fear of rejection, in the uncertainty of being valued and accepted for all we are, for being ourselves?

Di jaman dulu ada juga nih yang kena batunya...gara2 cadar. Pria malang itu adalah Yakub, saudara kembar dari Esau, cucu dari konglomerat Timur Tengah Abraham, yang nama besarnya dikenal dimana-mana.

Yakub jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis yang masih terhitung sanak keluarganya. Gadis itu, Rahel, elok sikapnya dan cantik parasnya. What a rare combination these days!! Berbeda dengan Lea, sang kakak, yang menurut catatan yang kubaca, memiliki mata yang tidak berseri.

Nah, sangking sudah mabuk kepayang cintanya pada Rahel, Yakub sama sekali tidak keberatan untuk bekerja selama 7 tahun -sebagai gembala ternak- bagi calon mertuanya. Aduh...kalo dipikir-pikir, cinta itu dahsyat juga ya. Masa sih 7 tahun serasa beberapa hari aja. Tanpa dibayar pake duit laginya. Wuihhh...Jacob was a fool for Rachel!

Setelah tiba waktu 7 tahun, hari yang dinanti-nantikan pun tiba....THE WEDDING DAY!

Menurut tradisi pada masa itu, seorang mempelai laki-laki tidak diijinkan untuk melihat wajah pasangannya, sampai setelah upacara perkawinan berlangsung, dan mereka masuk ke tenda privat mereka. And... when the celebration was over... Jacob, almost lost his mind with all the waiting he did... opened up the veil on his bride's head...only to find that he had married the WRONG one!


Topeng dan Cadar dalam Pernikahan

Orang bilang, emangnya nikah itu kayak beli kucing dalam karung? Musti kenal dulu dong sama 'kucing'-nya...hehehe. Well, idealnya sih begitu. Makanya banyak pasangan yang kemudian mengambil langkah "pe-de-ka-te', seperti halnya pasutri yang kukenal beberapa bulan belakangan ini. Pernikahan mereka sedang dilanda badai. Penyebabnya...klasik, ...orang ketiga. Sang suami tidak habis pikir mengapa istrinya begitu mudah kepincut dengan laki-laki lain yang notabene adalah kenalan mereka juga dan tinggalnya hanya 1 blok di belakang rumah mereka.

Ternyata masalah mereka yang kemudian menjadi pelik ini dimulai dari berbagai ketidakcocokan dan mis-komunikasi yang berkembang menjadi ketawaran dalam perkawinan mereka.

Apakah mereka sempat belajar saling mengenal waktu berpacaran dulu? Apakah ada tahap 'pe-de-ka-te' yang membuat mereka masing-masing nyaman untuk saling membuka topeng dan cadar mereka?

Menurut sang suami semasa pacaran dulu mereka sering dinner bersama, jalan-jalan ke mall dan nonton bioskop. Very common... Then I asked him, "kalian ngobrol apa aja kalo lagi jalan bareng."

"Ngobrol sih...tentang... tentang...ummm...apa ya? Lupa."

"Gubraaakss!!"

"Gak inget lagi. Ya..kami gak banyak ngobrol deh kayaknya waktu itu. Aku juga udah kepepet harus segera married, karena papaku sakit-sakitan."

No wonder. Istilah 'pe-de-ka-te' yang sering terdengar itu ternyata bermakna...jalan bareng, dinner di luar and nonton bioskop. Malah ada yang langsung ke grepe-grepe.

No wonder...topeng dan cadar itu masih saja nempel di wajah bahkan setelah mengatakan, "I do" di depan pendeta.

No wonder... pernikahan kemudian dipenuhi kejutan-kejutan warna-warni, seperti percikan mercon dan petasan di malam tahun baru, karena topeng dan cadar yang mulai terbuka perlahan-lahan.

Aku jadi kepingin nyanyi bareng Peterpan...

tapi buka dulu topengmu...

buka dulu topengmu...

biar kulihat warnamu...

kan kulihat warnamu....

Monday, December 28, 2009

A Tribute to Papi

Well, I've been wanting to put this in writing. I want to let all that I feel deep inside for this special person in my life flow out. My thoughts didn't settle and understanding didn't come as quick as I expected. Through the years, God has faithfully and skillfully take every threads of of many colors to paint a clear picture of this one special person in my life. And I thank Him again and again for the finished embroidery He handed me down, when it was finished. I was amazed... So, here is his story...

Di Pasar Baru
Dengan baju kuning yang masih baru itu, kami bertiga diajak jalan-jalan ke Pasar baru. Usiaku baru 6 tahun dan hari itu adalah hari ulang tahunku. Keluarga kami tidak terlalu sering berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, sehingga kesempatan itu sontak membuat kami kegirangan.
Toko-toko di Pasar Baru tidak sedang begitu ramai saat itu. Kami masuk dari toko yang satu ke toko yang lain. Aku tidak tahu apa yang sedang dicari oleh Mami dan Papi. Aku dan kedua adikku begitu girangnya karena tahu bahwa bakmi Gang Kelinci pasti akan menjadi hidangan istimewa hari ini. Ah, kalau dipikir-pikir, begitu sederhananya kebahagiaan kami saat itu.
Kemudian, setelah keluar masuk beberapa toko kain, aku melihat Mami dan Papi masuk ke toko emas. Aku dan kedua adikku mengikuti saja kemana mereka melangkah. Tiba-tiba namaku dipanggil oleh Mami. Dan seraya mengaitkan sebuah kalung kecil berbandul inisial namaku, mami berkata, "Ini hadiah ulang tahun dari Papi." Wah... aku terharu sekali. Bagaimana tidak, itu adalah perhiasan pertama milikku. Aku menatap Papi, hampir-hampir tidak percaya.


It's the 'Little' Things He did
Sekalipun jarang berwisata keluar, pernah sekali waktu pada saat kami libur sekolah, Papiku yang saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah di salah satu sekolah swasta di Jakarta, mengajak kami bertiga untuk 'berwisata' ke sekolahnya. Apa pula ini?
Dengan naik taksi, kami dibawa ke sebuah SMU di bilangan Bulungan. Memasuki pekarangan sekolah yang besar itu, aku terkagum-kagum dengan banyaknya ruang kelas dan lapangan basket dan volley yang besar. Kami bebas bermain basket, berlarian di lapangan dan koridor-koridor sekolah itu dan menggambar di papan tulisnya yang besar. Usiaku masih 9 tahun. Aku merasa begitu bangga akan Papiku hari itu...
Sekalipun disibuki dengan tugas-tugas dari sekolah dan jam mengajar les bahasa Inggris, Papi menyempatkan diri untuk melakukan hal-hal 'rumahan' lain. Di akhir pekannya, dia seringkali bisa ditemukan sedang membersihkan got di depan rumah (lengkap dengan celana pendeknya) dan dilanjutkan dengan mengganti tanah di pot-pot tanaman suplir Mami. Biasanya kalau tidak terlalu lelah, Papi sering mengajak Mami untuk pergi ke Pasar Senen dan membeli ikan yang masih fresh. Entah ikan kakap merah atau ikan mas. Semasa masih ada kolam kecil berisi ikan lele di samping rumah kami, bahkan Papi akan merelakan diri untuk melakukan barbeque tunggal dan meracik bumbu-bumbunya sendiri. Setelah itu, kami akan dengan riangnya berkumpul di meja makan dan menikmati santapan special itu.


Samosir, Bertahun-tahun yang lalu...
Papiku dilahirkan di kampung kecil di atas bukit di pulau Samosir, Danau Toba - Sumatera Utara. Ayahnya juga seorang guru. Kadang waktu mengamati tulisan Ompung Doli (begitu aku biasa memanggil kakekku), dan membandingkannya dengan tulisan tangan Papi, tak habis pikir aku melihat betapa rapi dan teraturnya tuisan-tulisan itu.
Rumah Ompungku adalah rumah tradisional berbentuk rumah panggung (ada kerbau di kolong rumah). Selain mengajar, Ompung juga bertani di ladangnya.
Sejak SMP, Papi sudah merantau ke kota lain dan tinggal di asrama. Hidupnya tidak mudah. Jauh dari Ompung, dia dididik oleh Bruder-bruder Belanda (tidak heran papiku fasih dalam bahasa Belanda).
Papi pindah dari kota ke kota dan menyelesaikan pendidikannya dalam bidang sastra Inggris. Setelah mengajar beberapa waktu di Siantar dan menikah dengan Mami, Papi kemudian memboyong kami ke Jakarta. Sepertinya kakinya tidak berhenti melangkah.
Aku pernah bertanya mengenai hal ini kepadanya, mengapa kami tidak tinggal saja di Siantar. "Papi mau kalian punya masa depan lebih baik. Di kota besar peluang untuk berhasil jauh lebih banyak." demikian selalu jawabnya.


Memory of December
Bulan Desember selalu merupakan bulan yang special bagiku. Bagaimana tidak? Itu bulan dimana kami membuat kue-kue Natal. Sekalipun jarang masuk ke dapur, untuk urusan mencetak kue, aku jagonya. Mami akan siapkan adonan-adonannya dan aku akan dengan senangnya membuat cetakan kue-kue itu. Biasanya ada adonan special yang dibuat Mami untuk 'kembang goyang', ini kue special yang garing berbentuk seperti kembang :)
Nah, untuk yang satu ini, tim kerjaku adalah ... Papi... hehehehe (adik-adikku tidak pernah tertarik dengan kegiatan ini.)
Tidak tahu kenapa, tapi Papi senang sekali untuk ikut serta, and he was pretty serious on this.
Kuali besar berisi minyak goreng dan kompor minyak tanah pun dipindahkan ke ruang tengah, di depan televisi. Adonan sepanci besar pun ikut dipindahkan bersama cetakan panjang yang ujungnya berbentuk kembang itu.
Lalu kami akan bergantian memanaskan cetakan kembang itu didalam minyak goreng yang panas kemudian mencelupkannya ke dalam adonan dan mencelupkannya lagi ke kuali. Berkali-kali... Ada berkaleng-kaleng kembang goyang yang kami buat setiap kali.
Seringkali kami baru selesai lewat pukul 12 malam. But, I love every minute of it! Karena sambil menggoreng, Papi banyak bercerita...


Jakarta, now...
Papiku kembali ke rumah Bapa pada tanggal 1 Desember, 12 tahun yang lalu. Mengenang dirinya yang begitu istimewa, aku sadar bahwa dia telah menorehkan banyak kenangan di hatiku. Aku ingin berkata seperti Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi bahwa Papiku adalah 'Ayah juara satu sedunia'. He is the best father for me.

Though he didn't express his love in words (I craved so much to hear him say those words), now I know that he did love me. God brought back all these memories and special moments I had with Papi, assuring me of how much my Papi love me... in his own unique ways.

So God, thank You for this finished embroidery. It does look awesome...